Tuesday, May 17, 2011

Kultur Phytoplankton

Kultur Phytoplankton

Gambar Kultur plankton di laboratorium


A. Persiapan Bahan Dan Media Kultur Air Laut
1. Air dari laut ditampung sementara pada bak 20 ton.
2. Air dialirkan pada bak viber 5 ton untuk disterilkan.
3. Sterilisasi air laut menggunakan kaporit (10 gram kaporit untuk 1 ton air laut) selama 24 jam.
4. Air dialirkan dengan pompa melalui pipa penyaringan dan instalasi UV, selanjutnya ditampung pada wadah-wadah dengan volume lebih kecil (50-60 liter).
5. Air dinetralkan mengunakan thiosulfat untuk menghilangkan kaporit sambil diaerasi.
6. Dilakukan tes Clorin, untuk memastikan air netral.
7. Air yang akan digunakan untuk media kultur murni dimasukkan ke dalam erlenmeyer volume 1 liter yang terdiri dari 600 ml air laut ditambahkan dengan 50 ml aquades dan selanjutnya diautoclave sampai suhu suhu
121 °C selama 1 jam.

B. Pembuatan Pupuk Coklat (Guillard)
1. Pupuk Coklat untuk Kultur Murni (Skala Laboratorium)
a. Ditimbang 75 ml silikat dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer 1.000 ml.
b. Ditambahkan dengan aquades sampai volume mencapai 1 liter, kemudian dididihkan pada hot plate. Kelompok pupuk ini adalah pupuk silikat dan siap digunakan.
c. Ditimbang 75 gram Sodium nitrat dan 5 gram Sodium Phospat, dimasukkan ke dalam erlenmeyer.
d. Ditambahkan dengan aquades sampai volume mencapai 1 liter, kemudian dididihkan pada hot plate. Kelompok pupuk ini adalah kelompok pupuk NP dan siap digunakan.
e. Ditimbang 3,15 gram FeCl3 dan 4,35 gram EDTA, kemudian dimasukkan ke dalam erlenmeyer. Ditambahkan dengan aquades sampai volume mencapai 1 liter dan selanjutnya dididihkan pada hot plate.
f. Ditambahkan Trace Metal : Na molybat, Co Chlorid, Mn Chlorid, Zn Sulfat dan Cu Sulfat, masing-masing 1 ml. Kelompok pupuk ini adalah kelompok pupuk Trace etal (TM) dan siap digunakan.
g. Aquades sebanyak 1 liter dididihkan pada hot plate, lalu dididinginkan.
h. Ditimbang 100 mg biotin, 20 mg thiamin dan 100 mg Cyanocobalamin.
i. Selanjutnya dilarutkan pada air laut yang telah mendidih. Kelompok pupuk ini adalah vitamin dan siap digunakan.
Dosis penggunaan masing-masing kelompok pupuk 1 ml/liter.
2. Pupuk Coklat untuk Kultur Massal (Skala Intermediate)
Pembuatan pupuk coklat untuk kultur massal skala intermediate menggunakan bahan yang sama pada kultur murni namun dengan komposisi berbeda. Komposisi pupuk skala intermediate terdiri dari 1.500 gram Sodium silikat, 3.750 gram Sodium nitrat, 250 gram Sodium phospat; 15,75 gram FeCl3; 21,75 gram EDTA. Ditambahkan Trace Metal : Na molybat, Co Chlorid, Mn Chlorid, Zn Sulfat dan Cu Sulfat, masing-masing 5 ml. Dosis penggunaan masing-masing kelompok pupuk 1 ml/liter.
C. Pembuatan Pupuk Hijau ( Walne / Conway )
1. Pupuk Hijau untuk Kultur Murni (Skala Laboratorium)
a. Ditimbang 1,3 gram FeCl2.6H2O; 0,36 gram MnCl2.4H2O; 33,6 gram H3BO3; 45 gram Na.Salt (EDTA); 20 gram NaH2PO4.2H2O; 100 gram NaNO3.
b. Semua bahan tersebut dilarutkan dalam 1 liter aquades, lalu dipanaskan pada hot plate hingga mendidih (sediaan A).
c. Ditimbang 2,1 gram ZnCl2; 2 gram CoCl2.6H2O; 0,9 gram (NH4)6 Mo6O24.4H2O; dan 2 gram CuSO4.5H2O.
d. Semua bahan tersebut dilarutkan dalam 100 ml aquadest (sediaan B).
e. Ditimbang 10 mg vitamin B12 dan 200 mg vitamin B5.
f. Bahan tersebut dilarutkan pada 100 ml aquades (sediaan C).
g. Sediaan A ditambahkan dengan 1 ml sediaan B (larutan Conway).
h. Larutan Conway ditambahkan ke dalam air laut 2 ml/1L air laut kemudian ditambahkan vitamin sebanyak 1 tetes.
D. Kultur Murni Skeletonema sp
a. Disiapkan air laut steril salinitas 28-30 ppm (sudah diautoklave) sebanyak 70 ml pada erlenmeyer 1 liter.
b. Ditambahkan pupuk coklat yang terdiri atas NP, Silikat, TM dan Vitamin masing-masing 1ml.
c. Campuran diaerasi hingga larut sempurna.
d. Dituangkan bibit / starter Skeletonema sp 10-20% dari volume kultur.
e. Mulut erlenmeyer ditutup dengan kertas aluminium foil sambil diaerasi
f. Masa kultur selama 2-3 hari.
g. Kultur dilanjutkan pada wadah toples kaca volume 2-3 liter dengan cara dan metode yang sama pada skala erlenmeyer.
h. Setelah 2-3 hari, kultur dilanjutkan ke wadah toples plastik volume 10-15 liter dengan cara dan metoda yang sama pada toples kaca volume 2-3 liter.
i. Hasil kultur pada wadah toples plastic volume 10-15 liter selanjutnya dijadikan starter untuk kultur skala intermediate dan massal.

E. Kultur Murni Chlorella sp
a. Disiapkan air laut steril salinitas 28-30 ppm (sudah diautoklave) sebanyak
70 ml pada erlenmeyer 1 liter.
b. Ditambahkan pupuk hijau (komposisi walne) dengan dosis 1ml/liter
media kultur.
c. Campuran diaerasi hingga larut sempurna.
d. Dituangkan bibit / starter Chlorella sp 10-20% dari volume kultur.
e. Mulut erlenmeyer ditutup dengan kertas aluminium foil sambil diaerasi
f. Masa kultur selama 4-5 hari.
g. Kultur dilanjutkan pada wadah toples kaca volume 2-3 liter dengan cara
dan metode yang sama pada skala erlenmeyer.
h. Setelah 4-5 hari, kultur dilanjutkan ke wadah toples plastik volume 10-15 liter dengan cara dan metoda yang sama pada toples kaca volume 2-3 liter.
i. Hasil kultur pada wadah toples plastic volume 10-15 liter selanjutnya dijadikan starter untuk kultur skala intermediate dan massal.
F. Kultur Massal Chlorella sp
a. Pemompaan air laut menggunakan mesin pompa yang dialirkan pada bak 20 ton pada ruangan tertutup sebagai bak tampung 1
b. Dilakukan pengendapan pada bak tampung 2 dan ditambahkan kaporit, selama 24 jam.
c. Membersihkan bak tampung 3 ukuran 20 ton (tempat kultur Chlorella sp).
d. Dilakukan pengisian air laut 12 ton, pada bak yang sudah dibersihkan. Selanjutnya ditambahkan pupuk (urea 800gr, Tsp 600gr, Dxn 200gr, NPK 100, ZA 1200gr dicampur dalam 1 wadah hingga larut), bibit Chlorella sp 8 ton.
e. Dibiarkan hingga padat selama 4-5 hari dan siap untuk dipanen.

G. Kultur Rotifera Brachianus plicatilis sp pada lingkungan massal
a. Membersihkan bak ukuran 5 ton
b. Menyediakan bibit Rotifera Brachianus plicatilis sp sebanyak 10 liter
c. Dilakukan pengisian Chlorella sp pada bak 5 ton sebagai pakan rotifera
d. Ditambahkan bibit Rotifera Brachianus plicatilis sp yang telah disediakan
e. Dibiarkan hingga padat atau terjadi blooming selama 1- 2 hari (kelihatan agak jernih) dan siap untuk dipanen dengan menggunakan saringan 300 ยต.

Pembahasan
A. Sterilisasi Air Laut Sebagai Media Kultur
Media kultur yang akan digunakan bersumber dari laut yang juga mengandung banyak organisme yang bersifat parasit seperti bakteri dan jamur. Air yang berasal dari laut biasanya memiliki salinitas yang tinggi. Organisme laut yang dikultur membutuhkan salinitas yang optimal. Kultur Chlorella sp dan Skeletonema sp dalam skala laboratorium membutuhkan salinitas antara 28-30 ppt. Air laut yang akan digunakan terlebih dahulu disterilkan melalui proses treatment secara bertahap yaitu pengendapan di bak penampungan, treatment menggunakan pasir, biofilter seperti rumput laut, kerang-kerangan, selanjutnya disterilkan menggunakan bahan-bahan sterilisasi seperti kaporit serta treatment ultraviolet (UV). Pemberian kaporit sebanyak 10 gram untuk setiap 1 ton air laut. Air laut juga dialirkan melalui pipa filter dan balon UV untuk mematikan mikroorganisme di dalamnya. Setelah penggunaan kaporit, air laut juga diberi thiosulfat untuk menghilangkan kaporit yang larut di dalam air sambil dilakukan aerasi. Aerasi berfungsi untuk mengaduk massa air dan menghasilkan oksigen sehingga air menjadi netral. Jika salinitas masih lebih tinggi, dapat diturunkan dengan penambahanan air tawar secara perlahan-lahan, sehingga didapatkan salinitas yang cocok untuk proses kultur tesebut. Kenetralan air juga harus diperhatikan, yaitu dengan dilakukan tes clorin terhadap air yang akan digunakan untuk kultur. Tes ini dilakukan dengan memasukkan air pada wadah tes sampai pada batas tersentu, kemudian diteteskan dengan clorin. Jika air telah berwarna bening, maka air telah dapat digunakan untuk proses kultur. Salinitas air nya dengan menggunakan refraktometer
i. Pembuatan Pupuk
Pupuk adalah bahan penting dan salah satu factor penentu keberhasilan dalam proses kultur. Pada skala laboratorium dan skala intermediet, pupuk yang digunakan aadalah sama, tetapi takarannya berbeda. Pupuk yang digunakan yaitu pupuk Walne untuk plankton hijau, sedangkan plankton coklat menggunakan pupuk silikat, NP, TM dan vitamin. Semua pupuk ini dibuat dan disediakan dalam stok tertentu sehingga dapat digunakan untuk jangka waktu yang cukup lama. Pembuatannya dilakukan melalui proses pemanasan. Hal ini untuk mengawetkan pupuk dan menghindari tumbuhnya jamur atau mikro organisme lain yang dapat merusak pupuk tersebut.
Sedangkan pupuk yang digunakan untuk lingkungan missal yaitu, Dexan, Za, Urea, NPK dan EDTA. Pemberian pupuk dilakukan secara langsung, dengan mencampur dan mengaduk pupuktesebut dengan air lalu diberikan pda Chlorella yang telah ditampung dan ditumbuhkan pada bak.
ii. Kultur Phytoplankton skala laboratorium
Kultur Chlorella menggunakan pupuk walne. Proses kultur dan pemindahan pada wadah kultur berikutnya dilakukan setiap 5 hari. Sedangkan kultur Skeletonema menggunakan pupuk silikat, NP, TM dan vitamin. Proses kultur plankton coklat ini adalah selama 3 hari. Dalam proses kultur harus selalu disertai dengan aerasi, yang berfungsi untuk menyediakan oksigen bagi organism kultur. Selain itu, disediakan pula lampu neon sebagai sumber cahaya dan pendukung bagi kedidupan plankton, khususnya plankton hijau sebagai sumber untuk fotosistesis. Intensitas cahaya yang digunakan dalam skala laboratorium adalah sebesar 3.000 lux. Besarnya intensitas cahaya ini diukur dengan menggunakan lux meter. Ruang kultur yang digunakan harus berAC untuk menyesuaikannya dengan pertumbuhan phytoplankton. Suhu ruangan yang dibutuhkan adalah 17-18oC. selain ini kondisi ruangan juga hrus selalu bersih dan steril untuk menghindari kontaminasi mikro organism yang dapat mengganngu proses kultur.
iii. Kultur Chlorella sp pada Lingkungan Massal
Kegiatan kultur massal Chlorella sp merupakan sesuatu kegiatan lanjutan dari kultur murni dan merupakan suatu kegiatan yang berperang penting bagi kelangsungan hidup organisme baik dalam usaha budidaya maupun pembenihan. Berbeda dengan kultur murni, kultur massal Chlorella sp di dalam proses kerjanya memerlukan sarana dan prasarana serta ketelitian, hal ini dikarenakan pada proses kultur massal memiliki tingkat proses kerja yang jauh lebih banyak dari pada kultur murni, dan hasil dari kultur massal akan diaplikasikan langsung pada organisme budidaya dan pembenihan sehingga di dalam tiap tahapan kultur massal harus di perhatikan sarana dan prasarana, serta faktor lingkungan dan tempat dilakukan kultur massal.
Adapun tahap-tahap yang dilakukan dalam kultur ini adalah:
1. Tahap persiapan
a. Bak kultur
Kegiatan persiapan merupakan tahap awal yang harus dilakukan dalam memulai kultur massal Chlorella sp. Kegiatan ini meliputi kegiatan pembersihan bak dengan menggunakan air laut, pemasangan atau perbaikan aerasi dalam bak-bak kultur serta persiapan dalam menyiapkan alat yang akan di gunakan.
Bak kultur yang terdapat pada Balai Budidaya Air Payau Takalar (BBAPT) terdiri atas 12 bak yang berbentuk bujur sangkar dengan masing-masing bak berkapasitas 20 ton konstruksi dasar bak di buat miring ke arah saluran pembuangan. Saluran pembuangan menggunakan pipa paralon dan petak panennya dibuat satu, untuk 6 buah bak yang penempatannya diletakan di tengah-tengah empat bak tersebut pada dinding yang berdampingan.
Instalasi untuk aerasi menggunakan pipa paralon yang dipasang pada bak kultur secara vertikal dan ada yang dipasang pada sisi panjang dari wadah kultur yaitu bagian paling atas, dan dipasang selang aerasi yang dilengkapi dengan kran pengaturan sesuai ukuran selang. Tujuan dari pemasangan pipa pada bagian atas (lebih tinggi dari media kultur) adalah untuk memperkecil kemungkinan tersendatnya media kultur ke dalam instalasi/pipa aerasi pada saat blower mati.
b. Pembersihan bak kultur massal
Kegiatan pembersihan bak dilakukan dengan menggunakan sikat dan dilakukan sesudah kegiatan panen total selesai. Tujuannya untuk membersihkan kotoran-kotoran yang menempel pada dinding atau dasar bak yang biasanya berwarna hijau lumut. Setelah sikat dibilas/ dibersihkan dengan menggunakan air laut. Dilakukan pula pembersihan pada pipa-pipa dan selang aerasi.
2. Tahapan Kultur Massal
a. Bibit Chlorella sp
Bibit yang digunakan pada awal kegiatan kultur massal rotifera di BBAP Takalar berasal dari kultur semi massal, dimana bibit semi massal diperoleh dari kegiatan kultur murni rotifera yang diambil di alam.
b. Media kultur
Media kultur yang digunakan dalam kultur massal adalah air laut yang di berikan pada bak 20 t0n sebanyak 12 ton. Selanjutnya pemberian pupuk (urea 800gr, Tsp 600gr, Dxn 200gr, NPK 100, ZA 1200gr dicampur dalam 1 wadah hingga larut ) kemudian disebar diatas permukaan terutama pada daerah aerasi untuk memudahkan pupuknya tercampu rata. Selanjutnya penambahan bibit Chlorella sp sebanyak 8 ton dari salah satu bak yang sudah siap panen. Indikasi suatu Chlorella sp yang siap panen ketika warnanya sudah lebih pekat atau terjadi blooming.
c. Pakan rotifera
Dalam kultur massal rotifera di BBAP Takalar yang diberikan yaitu Chlorella sp. Dimana Chlorella sp tersebut dikultur secara terpisah dan secara berkelanjutan sehingga persediaan Chlorella sp tetap ada. Chlorella sp yang digunakan sebagai pakan rotifera diperoleh dari kultur massal Chlorella sp.
d. Teknik kultur
Kegiatan kultur rotifera yang digunakan dengan menggunakan sistem panen total jika ketersediaan rotifera meningkat.
e. Panen
Pemanenan dapat dilakukan jika terdapat perubahan warna hijau pekat dan terjadi blooming. Pemanenan ini dilakukan pada saat 5-6 hari. Pemanenan dilakukan secara total untuk setiap bak kultur hasil pemanenan tersebut biasanya digunakan untuk pakan rotifera dan dijadikan sebagai bibit pada kultur selanjutnya.
Pemanenan dapat dilakukan dengan cara mengalirkan Chlorella sp ke bak rotifera dengan menggunakan pompa set up dan selang air. Dalam metode ini diperlukan ketelitian dimana orang berperan dalam kultur Chlorella sp dan rotifera harus berbeda untuk mencegah terjadinya kontaminasi.

iv. Kultur Rotifera Brachianus plicatilis skala Massal
Kegiatan kultur massal rotifer merupakan sesuatu kegiatan lanjutan dari kultur murni dan merupakan suatu kegiatan yang berperang penting bagi kelangsungan hidup organisme baik dalam usaha budidaya maupun pembenihan. Berbeda dengan kultur murni, kultur massal rotifer di dalam proses kerjanya memerlukan sarana dan prasarana serta ketelitian, hal ini dikarenakan pada proses kultur massal memiliki tingkat proses kerja yang jauh lebih banyak dari pada kultur murni, dan hasil dari kultur massal akan diaplikasikan langsung pada organisme budidaya dan pembenihan sehingga di dalam tiap tahapan kultur massal harus di perhatikan sarana dan prasarana, serta faktor lingkungan dan tempat dilakukan kultur massal.
Adapun tahap-tahap yang dilakukan dalam kultur ini adalah:
1. Tahap persiapan
a. Bak kultur
Kegiatan persiapan merupakan tahap awal yang harus dilakukan dalam memulai kultur massal rotifer. Kegiatan ini meliputi kegiatan pembersihan bak dengan menggunakan air laut, pemasangan atau perbaikan aerasi dalam bak-bak kultur serta persiapan dalam menyiapkan alat yang akan di gunakan.
Bak kultur yang terdapat pada Balai Budidaya Air Payau Takalar (BBAPT) terdiri atas 8 bak yang berbentuk bujur sangkar dengan masing-masing bak berkapasitas 5 ton konstruksi dasar bak di buat miring ke arah saluran pembuangan. Saluran pembuangan menggunakan pipa paralon dan petak panennya dibuat satu, untuk 4 buah bak yang penempatannya diletakan di tengah-tengah empat bak tersebut pada dinding yang berdampingan.
Instalasi untuk aerasi menggunakan pipa paralon yang dipasang pada bak kultur secara vertikal dan ada yang dipasang pada sisi panjang dari wadah kultur yaitu bagian paling atas, dan dipasang selang aerasi yang dilengkapi dengan kran pengaturan sesuai ukuran selang. Tujuan dari pemasangan pipa pada bagian atas (lebih tinggi dari media kultur) adalah untuk memperkecil kemungkinan tersendatnya media kultur ke dalam instalasi/pipa aerasi pada saat blower mati.
b. Pembersihan bak kultur massal
Kegiatan pembersihan bak dilakukan dengan menggunakan sikat dan dilakukan sesudah kegiatan panen total selesai. Tujuannya untuk membersihkan kotoran-kotoran yang menempel pada dinding atau dasar bak yang biasanya berwarna hijau lumut. Setelah sikat dibilas/ dibersihkan dengan menggunakan air laut. Dilakukan pula pembersihan pada pipa-pipa dan selang aerasi.
2. Tahapan Kultur Massal
a. Bibit rotifera
Bibit yang digunakan pada awal kegiatan kultur massal rotifera di BBAP Takalar berasal dari kultur semi massal, dimana bibit semi massal diperoleh dari kegiatan kultur murni rotifera yang diambil di alam.
b. Media kultur
Media kultur yang digunakan dalam kultur massal adalah air laut yang di berikan Chlorella sp. Penggantian media kultur dilakukan dengan melihat perubahan warnah yang terjadi, biasanya jika media kultur mengalami perubahan pada warnah yang berubah menjadi bening, maka diperlukan dengan cara melakukan penambahan atau penggantian media.
c. Pakan rotifera
Dalam kultur massal rotifera di BBAP Takalar yang diberikan yaitu Chlorella sp. Dimana Chlorella sp tersebut dikultur secara terpisah dan secara berkelanjutan sehingga persediaan Chlorella sp tetap ada. Chlorella sp yang digunakan sebagai pakan rotifera diperoleh dari kultur massal Chlorella sp.
d. Teknik kultur
Kegiatan kultur rotifera yang digunakan dengan menggunakan sistem panen total. Media kultur yang digunakan adalah air laut yang mengandung Chlorella sp. Chlorella sp yang digunakan tersebut berasal dari kultur massal. Kegiatan ini diawali dengan pengisian Chlorella sp ke dalam bak kultur rotifera. Sesudah itu bibit rotifera yang diperoleh dari hasil kultur pada bak-bak kultur yang berbeda ditebar ke dalam bak kultur yang berisi Clorella sp. Chlorella sp yang diisi ke dalam bak kultur rotifera tidak dihitung kepadatannya.
e. Panen
Pemanenan dapat dilakukan bila terdapat buih, warnah airnya menjadi bening dan terjadi blooming. Pemanenan ini dilakukan pada saat 1-2 hari atau setelah bibit rotifera ditebar. Pemanenan dilakukan secara total untuk setiap bak kultur hasil pemanenan tersebut biasanya digunakan untuk pakan dan dijadikan sebagai bibit pada kultur selanjutnya.
Pemanenan dapat dilakukan dengan cara mengalirkan air media pemeliharaan bersama rotifer ke dalam bak penampung rotifer yang telah dipasang saringan yang berukuran 300 mikron atau dengan menggunakan selang spiral, dimana pada ujung atau mulut selang dilengkapi dengan saringan diletakan di dalam ember plastik yang berukuran 10 liter. Pemindahan rotifer di dalam bak panen tidak perlu sampai panen selesai tetapi dilakukan secara bertahap. Sehingga kepadatan dalam wadah panen tidak terlalu tinggi.
Sebelum hasil panen dimasukan ke dalam ember plastik yang berukuran 10 liter , rotifer hasil panen tersebut disaring kembali. Sehingga kotoran yang ikut terbawah pada saat panen dapat tertahan melalui penyaringan tersebut. Sesudah itu baru memasukan rotifer yang baru tersaring kedalam ember plastik yang berisi pakan rotifer yaitu Chlorella sp.

Metode panen rotifer yang di gunakan ada 2 cara yaitu;
1. Metode panen total (Batch Culture).
Metode ini dimana bak yang telah dibersihkan di masukkan Chlorella sp dengan kepadatan yang diinginkan atau dengan kepadatan tertentu, lalu diberikan bibit rotifer yang telah disiapkan. Apabilah sudah mencapai 1-2 hari dan telah mengalami blooming maka rotifer tersebut dapat dipanen dan hasil panennya dapat dibuat menjadi bibit baru untuk dikultur selanjutnya. Hal yang mendukung terjadinya panen total apabila cuaca tidak memungkinkan atau musim hujan, permintaan banyak dari konsumen, stok rotifera banyak.
2. Metode panen setengah (Subkontinyu)
Dalam metode ini bak yang telah dibersihkan, dimasukkan Chlorella sp dengan kepadatan tertentu, setelah itu diberikan bibit rotifer yang yang disiapkan. Jika telah mencapai 1-2 hari rotifer tersebut siap dipanen, tetapi panennya tidak menyeluruh atau hanya sebagian saja dan ditambahkan lagi dengan Chlorella sp. Kegiatan dalam metode ini dilakukan secara terus menerus dan diulang-ulang sampai bibit rotifer yang dikultur habis.