Sunday, June 19, 2011

Acanthaster planci

Bintang Matahari Acanthaster planci

Acanthaster planci merupakan bintang laut yang memiliki banyak lengan dan memiliki duri bisa, Acanthaster planci juga dikenal dengan nama bintang laut mahkota duri.

Sejarah

Bintang laut planci dilaporkan pertama kali dari contoh hewan di Indonesia oleh George Rumphius pada tahun 1705, yang 50 tahun kemudian dideskripsikan Linnaeus pada tahun 1758 (Moran 1990, Lane 1996), sehingga diperkirakan Acanthaster planci memang merupakan biota asli Indonesia. Genus terdiri atas tiga spesies, dua spesies lainnya adalah Acanthaster ellisi dan Acanthaster brevipinnus. Acanthaster ellisi merupakan bintang laut pemakan karang yang populasinya sangat jarang, hanya dilaporkan di Filippina. Acanthaster brevipinnus adalah bintang laut pemakan detritus (sampah organic). Ketiga spesies tersebut mempunyai genetik yang sangat mirip sehingga kadang terjadi hibrid di antara mereka. Di dalam evolusi, Acanthaster planci berasal dari Acanthaster brevipinnus yang mendapatkan kemampuan untuk memakan karang.
Bintang laut Acanthaster planci memiliki nama Indonesia sebagai terjemahan dari nama Inggrisnya ‘mahkota duri’ atau ‘mahkota berduri’. Menyebut atau menulis nama lengkap ‘bintang laut mahkota duri’ dianggap terlalu panjang, maka penulis mengusulkan digunakan nama kependekannya saja ‘BLMD’. Didalam komunikasi ilmiah berbahasa Inggris, para peneliti menggunakan nama ‘COT’ kependekan dari ‘crown of thorns’, sebagai pengganti Acanthaster planci. Di luar Indonesia, Acanthaster planci mempunyai nama lokal ‘alamea’ (Tonga, Samoa), ‘bula’ (Fiji) dan ‘rrusech’ (Palau).

Habitat

Acanthaster planci hidup di daerah terumbu karang khususnya jenis acropora, Acanthaster yang masih kecil bersembunyi di selah-selah karang. Sebagian besar hidup Acanthaster planci di gunakan untuk makan jadi sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan karang. Hal ini dikarenakan Acanthaster planci memiliki preferensial yang cukup besar. Acanthaster planci yang pertumbuhannya di bawah 2,6 mm/ bulan masih makan alga yang melekat pada karang tempat persembunyian Acanthaster yang berukuran kecil ini, bisa dikatakan Acanthaster planci yang berukuran kurang dari 10 mm makan alga. Sedangkan yang berukuran 10-160 mm sudah mulai makan jaringan karang yang pertumbuhannya 16,7 mm/bulan. Sedangkan yang ukuran tubuhnya sudah mencapai 250-400 mm (dewasa), ini mengalami pertumbuhan 4,5 mm/ bulan, hal ini terjadi setelah pertumbuhannya mencapai ukuran 160 mm, sehingga mengalami perlambatan pertumbuhan. Pada ukuran di atas 160 mm sudah mulai makan karang. Hewan ini bersembunyi di selah-selah terumbu karang, karang merupakan tempat persembunyian sekaligus sebagai sumber nutrisi bagi Acanthaster planci.

Morfologi

Struktur tubuh Acanthaster planci sama dengan struktur umum dari Asteroidea. Badan berbentuk radial simetris, dengan tubuh mirip cakram bersumbu oral dan aboral yang mempunyai lengan-lengan. Bagian oral (mulut) menghadap ke bawah sedangkan bagian aboral menghadap ke atas. Di bagian aboral terdapat madreporit dan anus. Lubang madreporit berjumlah 6-13, sedangkan lubang anus berjumlah 1-6 buah. Bintang laut Acanthaster planci mempunyai lengan antara 8-21 buah. Duri-duri yang beracun berukuran 2-4 cm menghiasi permukaan aboral tubuh cakram dan lengan-lengannya. Warna tubuh Acanthaster planci dapat bervariasi antar lokasi. Di perairan Thailand dan Maladewa (Maldive) warna tubuh biru keunguan, di GBR berwarna merah dan kelabu, sedangkan di Hawaii berwarna hijau dan merah. Di Indonesia, warna tubuh Acanthaster planci merah dan kelabu pada perairan Laut Jawa dan Laut Flores. Di Cocos Island dan Christmas Island (barat daya Jawa), Australia, terdapat dua macam warna Acanthaster planci yang menunjukkan tipe Samudra Pasifik dan Samudra Hindia.

Reproduksi

Reproduksi Acanthaster planci, pembuahannya terjadi secara eksternal artinya ovum dan sperma bertemu di luar tubuh. Betina pemijah biasanya berumur 2-3 tahun, atau ukuran diameter tubuhnya lebih dari 25 cm. Betina yang dewasa mempunyai ukuran tubuh 500-4000 gram, yang memiliki fekunditas sekitar 4-65 juta telur. Jumlah telur yang sangat besar memang diperlukan oleh kebanyakan invertebrata laut. Kelulus hidupan yang rendah harus diimbangi dengan jumlah telur yang sangat besar, sehingga larva yang selamat menjadi dewasa dapat dipertahankan. Telur Acanthaster planci berukuran 200 mikron, sedangkan sperma berukuran sekitar 1-2 mikron. Ukuran telur dan sperma ini tidak banyak berbeda dengan ukuran umum gamet invertebrata laut. Pemijahan berlangsung sekitar 30 menit. Individu dewasa biasanya bergerombol sebelum pemijahan, dan memijah secara bersama pada saatnya. Ketika seekor betina memijah, maka suatu feromon yang keluar bersama telur akan memicu pemijahan betina lain dan bintang laut jantan yang ada di sekitarnya. Efektivitas feromon dalam memicu pemijahan tetangganya diperkirakan seluas radius 1-2 meter. Pemijahan berjamaah ini sangat penting bagi invertebrata laut untuk meningkatkan peluang terjadinya pembuahan.

Siklus hidup

Siklus hidup Acanthaster planci pada prinsipnya sama persis dengan pola siklus hidup hewan Asteroidea (bintang laut) yang lainnya. Zigot yang terjadi pada saat pemijahan berkembang melalui proses-proses blastulasi dan gastrulasi yang kemudian memasuki tahapan dua fase larva secara berurutan, yaitu bipinnaria dan brachiolaria. Kedua larva tersebut hidup sebagai plankton sehingga pergerakannya mengikuti arah arus. Larva brachiolaria yang matang mempunyai daya apung negatif sehingga turun ke dasar laut yang biasanya di kawasan terumbu karang. Diduga larva brachiolaria menggunakan ‘aroma’ alga berkapur sebagai tanda-tanda untuk turun menempel pada terumbu karang. Setelah menempel di dasar terumbu, dimulailah kehidupan sebagai bentos bagi Acanthaster planci. Penempelan larva Acanthaster planci kemungkinan terjadi di tempat yang dalam karena pemangsaan karang oleh Acanthaster planci biasanya dimulai dari karang di tempat yang dalam.
Periode planktonis dari Acanthaster planci berlangsung sekitar dua atau tiga minggu. Makanan larva planktonis Acanthaster planci terdiri dari fitoplanton (khususnya pikoplankton), bakteri dan bahan organik terlarut. Periode planktonis larva brachiolaria diakhiri dengan berkembangnya lima lengan melalui metamofosis dan menempel di dasar terumbu. Metamorfosis tersebut terjadi setelah hari ke-12. Ukuran diameter Acanthaster planci pada saat terjadi penempelan sekitar 0,5-1 mm atau 500-1000 mikron. Anakan Acanthaster planci yang sudah menempel di terumbu mendapatkan makanan dari alga berkapur. Pada umur sekitar 4-6 bulan, ketika ukuran tubuhnya mencapai 10 mm, Acanthaster planci merubah makanannya menjadi pemangsa karang dan mampu tumbuh jauh lebih cepat. Laju mortalitas Acanthaster planci sangat tinggi, sebagaimana invertebrata laut lainnya. Laju mortalitas akan berkurang dengan bertambahnya ukuran tubuh Acanthaster planci. Pada kotak percobaan di lapangan, laju mortalitas anakan Acanthaster planci pada ukuran 1,1 cm atau umur satu bulan adalah 6,49% per hari. Laju mortalitas tersebut menurun pada hewan yang lebih besar menjadi 1,24% per hari pada ukuran 2,7 mm (4 bulan) dan menjadi 0,45% per hari pada ukuran 5,5 mm (7 bulan). Di dalam kajian Moran (1990) disebutkan bahwa laju mortalitas Acanthaster planci pada umur 7-23 bulan adalah 99,3%, atau sekitar 1,08 % per hari, sedangkan laju mortalitas Acanthaster planci antara umur 22-34 bulan adalah 75%, atau sekitar 0,39% per hari. Ketiga penelitian tersebut dilakukan pada saat terjadi peledakan populasi, sehingga faktor kepadatan populasi dapat berpengaruh.

Predator

Acanthaster planci muda mempunyai suatu zat/ senyawa kimiawi pada durinya untuk pertahanan diri, akan tetapi setelah menjdai Acanthaster planci dewasa mengalami pengurangan duri beracunnya. Oleh karena itu Acanthaster planci tergolong organisme yang mudah dimangsa oleh organisme lain yang mampu melokalisir mereka dan terlindungi dari duri beracunnya.Kepiting karang dan beberapa ikan memangsa Juvenil Acanthaster planci.
Beberapa Jenis Ikan pemangsa Acanthaster planci adalah ikan kerapu, ikan trigger, dan ikan Napoleon yang memangsa Acanthaster planci dewasa. Ikan-ikan ini membalikkan Acanthaster planci dewasa sehingga terhindar dari duri-duri dari Acanthaster planci yang beracun.Salah satu pemangsa dari Acanthaster planci adalah Triton raksasa Charonia tritonis dan udang warna Hymeno cerapicta

No comments:

Post a Comment