Sunday, May 18, 2014

Amphibi di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung

Amphibi


       Amphibi merupakan hewan dengan kelembaban kulit yang tinggi, tidak tertutupi oleh rambut dan mampu hidup di air maupun di darat. Amphibia berasal dari bahasa Yunani yaitu Amphi yang berarti dua dan Bios yang berarti hidup. Karena itu amphibi diartikan sebagai hewan yang mempunyai dua bentuk kehidupan yaitu di darat dan di air. Pada umumnya, amphibia mempunyai siklus hidup awal di perairan dan siklus hidup kedua adalah di daratan. (Hidayat, 2009)
     Amphibia terdiri dari 4 ordo yaitu Urodela (Salamander), Apoda (Caecilia), dan Anura ( katak dan kodok), Proanura (telah punah).

ciri-ciri hewan amphibi;
  1. Kulitnya berlendir
  2. Alat gerak berupa dua pasang kaki dan pada setiap pada setiap kakinya terdapat selaput renang yang terdapat pada jari-jari kakinya, serta kakinya berfungsi untuk melompat dan berenang.
  3. Pada fase berudu, pernapasan dilakukan melalui insang sedangkan pada fase dewasa bernapas dengan paru-paru dan kulit. Pada hidung amfibi dewasa memiliki katup yang dapat menutup sewaktu menyelam.
  4. Habitat di air dan dirat
  5. Suhu tubuh berubah-ubah tergantung kondisi lingkungan
  6. Peredaran darah tertutup
  7. Matanya memiliki selaput berupa membaran niktitans yang berfungsi pada saat menyelam
  8. Reproduksi aseksual dimana telur dibuahi diluar tubuh
  9. Jantung terdiri dari 3 ruang dimana 2 serambi dan 1 bilik.

Bufonidae

     Famili ini sering disebut kodok sejati. Ciri-siri umumnya yaitu kulit kasar dan berbintil, terdapat kelenjar paratoid di belakang tympanum dan terdapat pematang di kepala. Mempunyai tipe gelang bahu arciferal. Sacral diapophisis melebar. Bufo mempunyai mulut yang lebar akan tetapi tidak memiliki gigi. Tungkai belakang lebih panjang dari pada tungkai depan dan jari-jari tidak mempunyai selaput. Fertilisasi berlangsung secara eksternal.
      Famili ini terdiri dari 18 genera dan kurang lebih 300 spesies. Beberapa contoh famili Bufo yang ada di Indonesia antara lain: Bufo asper, Bufo biporcatus, Bufo melanosticus dan Leptophryne borbonica.( Eprilurahman, 2007 )

1. Bufo celebensis Schlegel, 1867
      Nama umum katak sulawesi, ukuran sedang, kelenjar paratoid yang besar dimana terletak diatas tympanums (gendang telinga). warna coklat gelap berkarat. Jari-jari pada kaki berselaput, habitat semi-akuatik. kodok endemik sulawesi.
2. Bufo melanostictus Schneider, 1799
      Katak ini dikenal dengan katak asia dimana ukuran tubuh sedang sampai besar. memiliki warna kuning karat sampai kecoklatan.Kulit di tutupi dengan benjolan atau kutil dengan tips hitam. Spesies mudah di identifikasi dengan punggungan hitam di sepanjang moncong dan diatas mata. Sering ditemukan dipermukiman manusia. habitat berubah-ubah dari daerah terestial sampai semi akuatik di alam. Distribusi jawa, irian, cina dan india. 

Microhylidae

      Sesuai dengan namanya, kelompok ini memiliki bentuk kepala dan mulut yang kecil. Ukuran tubuhnya kecil sampai sedang. Biasanya ditemukan dibawah sampah daun ataupun semak di hutan. Famili ini di temukan di Amerika selatan, Asia Tengah dan Australia. Di Indonesia umumnya ditemukan diseluruh daerah.
3. Oreophryne sp. 1
     Katak kecil dengan moncong bulat. Krim bodi dan speckles berwana gelap dan putih. Jari kaki dengan disks yang besar. Disks kaki depan lebih besar Oreophryne sp.2. 
4. Oreophryne sp.2
     Katak ini lebih kecil dari katak Oreophryne sp.1 Warna tubuh cokelat terang hingga coklat gelap dengan bintik berwarna gelap. Dasar paha kaki belakang berwarna kemerahan. Hidup pada habitat lembab pada kawasan hutan. Biassanya ditemukan di atara daun serasah atau tanah atau pada daun semak.

Ranidae

     Ranidae merupakan katak sejati dengan Family beragam.Ukuran tubuhnya rata-rata, warna hampir mirip pada famili ini. ukuran tubuh ramping dengan mata besar. Habitat pada lingkunagna air, bahkan ada yang hidup apada daerah teresterial di alam. Biasanya dikonsumsi. Distribusi tersebar di seluruh dunia.
5. Fejervarya cancrivora Boie, 1835
    Katak ini dikenal dengan nama katak pemakan kepiting, katak pemakan padi. Katak ini berukuran sedang hingga besar. Warna tubuh berwarna cokelat kemerahan hingga coklat gelap dengan garis berwarna gelap yang memungkinkan berkamuflase dengan sangat sempurna di lingkungannya. Garis vertebralis kadang ada terkadang ada yang tidak punya. Kaki berselaput sebagai bentuk adaptasi di daerak akuatik atau semi akuatik. Ditemukan di daerah persawahan dan air tawar.

6. Limnonectes modestus Boulenger, 1882
     Katak yang berukuran kecil dimana kulitnya berwarna abu-abu kecoklatan dengan tanda strip gelap, serta punggungnya terdapat lipatan longitudinal. Habitat di tempat yang lebab serta katak yang selalu menjaga telur siang dan malam sampai menjadi berudu, selalu meletakkan telur diatas daun atau batuan yang berada di air yang tenang sehingga ketika telurnya menetas akan langsung jatuh kedalam air. Katak ini merpakan endemik sulawesi
7.  Limnonectes Grunniens Latrielle, 1802
     Katak ini berukuran besar serta memiliki ciri khas yaitu berupa tonjolan tulang dirahang bawah. Umumnya dikenal dengan katak bertaring. Kulit dari katak ini berwarna cokelat gelap. serta memiliki kemampuan berkamuflase didalam lumpur
8. Occidazyga laevis Gunther, 1858
      Katak ini memiliki nama umum katak pudel, dikarenakan karena ukurannya yang kecil sampai menengah. dimana memiliki warna yang bervariasi mulai dari krem, cokelat gelap, serta pada punggungnya berwarna hitam. memiliki mata yang besar serta kaki yang pendek dan gemuk.
9. Rana celebensis Schlegel, 1872
       Katak ini dikenal dengan nama katak sulawesi. Ukuran dari sedang hingga besar. memiliki tubuh yang ramping serta memanjang, moncong runcing, mata dan tympanum besar, tubuhnya memiliki variasi warna dari cokelat kehijauan  menjadi kuning kehijauan gelap. Katak ini merupakan endemik sulawesi
10. Rana erythraea Schlegel, 1837
      Katak ini dikenal dengan katak padi. Katak berukuran sedang dengan tubuh yang ramping dan moncong yang runcing, tungkai panjang dan ramping. Tubuh hijau kekuningan, warna perut krim kekuningan, dorsal memiliki garis berwarana. di temukan pada sawah, rawa atau kolam.

Rhacophoridae

       Katak ini merupakan katak yang suka hidup di pepohonan dimana memiliki mata yang besar serta bantalan pada ujung jari-jari yang besar. 
11. Polypedates leucomystax Gravenhorst, 1829.
      Katak ini dikenal dengan katak pohon bergaris, Kodok yang agak ramping berukuran sedang. Panjang tubuh dari moncong ke anus (SVL, snout-to-vent length) sekitar 50 mm pada kodok jantan, dan sampai dengan 80 mm pada yang betina. Punggung (dorsal) berkulit halus, tanpa lipatan, tonjolan atau bintil-bintil. Warna sangat berubah-ubah, coklat muda kekuningan, keabu-abuan sampai pucat keputihan. Polos, berbintik gelap besar dan kecil, atau bergaris-garis memanjang. Kodok ini juga dapat berubah warna dari yang berpola agak gelap dan kontras di waktu malam, hingga pucat dan samar-samar di waktu siang.
     Terdapat suatu garis atau pita gelap kehitaman sampai hitam antara hidung dengan mata, terus ke belakang melewati sisi atas timpanum (gendang telinga) sampai ke bahu. Pita hitam itu dibatasi garis tipis kuning keemasan di sebelah atasnya, terutama dari mata hingga ke bahu di atas timpanum. Garis keemasan serupa itu terdapat pula pada sibir sempit di sisi tangan, dari siku hingga ke sisi lateral (samping) jari-jari tangan; dan di sisi telapak kaki hingga sisi lateral jari-jari kaki. Sisi bawah (ventral) berbintil halus, berwarna putih sedikit keemasan. Tangan dan paha dengan garis-garis (coreng) miring kehitaman. Jari-jari di tangan berselaput renang setengahnya atau hampir tak ada. Selaput renang di kaki berwarna kehitaman, mencapai ruas jari paling ujung; kecuali pada jari keempat (yang terpanjang), hanya mencapai ruas kedua dari ujung. Mata besar, menonjol; iris kuning keemasan. Bibir atas keemasan, bibir bawah kehitaman.

12. Rhacophorus monticola Boulenger, 1896.
       Katak ini memiliki ukuran kecil, serta memiliki berbagai warna, dari warna kuning dengan tanda cokelat, hingga hijau nkekunungan dengan bintik hijau dan perut berwarna kuning. Tubuh langsing serta moncong panjang dan runcing, biasanya ditemukan bertengger di atas ranting semak.