Sunday, May 11, 2014

SEMUT

Semut

    
       Telah  disebutkan  bahwa  semut  hidup  berkoloni  dan  di  antara  mereka  terdapat pembagian kerja yang sempurna. Jika diteliti, kita dapati sistem mereka memiliki struktur sosial yang cukup menarik. Mereka pun mampu berkorban pada tingkat yang lebih tinggi daripada  manusia.  Salah  satu  hal  paling menarik dibandingkan  manusia,  mereka  tidak mengenal konsep semacam diskriminasi kaya-miskin atau perebutan kekuasaan.
     Banyak ilmuwan yang bertahun-tahun melakukan penelitian mendalam tak mampu menjelaskan perilaku  sosial  semut  yang  begitu  maju.  Caryle  P.  Haskins,  Ph.D.,  kepala Institut Carnegie di Washington menya-takan: Setelah  60  tahun  mengamati  dan  mengkaji,  saya  masih  takjub  melihat betapa canggihnya
perilaku  sosial  semut. Semut  merupakan  model  yang  indah  untuk  kita gunakan dalam mempelajari akar perilaku hewan, seperti :

1.Sebagian  koloni  semut  begitu  padat  populasinya  dan  begitu  luas  daerah  hidupnya, sehingga  tak mungkin  bisa  dijelaskan  bagaimana  mereka  dapat  membentuk  tatanan  yang sempurna. Jadi, pernyataan Dr. Haskins sulit dibantah. Sebagai contoh koloni yang besar ini, misalnya spesies semut Formica yesensis, yang hidup  di  pantai  Ishikari,  Afrika.  Koloni  semut  ini  tinggal  di  45.000  sarang  yang  saling berhubungan  di  wilayah  seluas  2,7  kilometer  persegi.  Koloni  yang  memiliki  sekitar 1.080.000  ratu dan  306.000.000  pekerja  ini  dinamai koloni  super  oleh  para  peneliti. Ditemukan  bahwa  semua alat  produksi  dan  makanan  dipertukarkan  dalam  koloni  secara tertib
2. Sungguh sulit menjelaskan bagaimana semut-semut ini mempertahankan ketertiban tanpa masalah, mengingat luasnya tempat tinggal mereka. Harus diingat, untuk menegakkan hukum dan menjaga keter-tiban sosial, bahkan di negara beradab dengan sedikit penduduk pun,  diperlukan  berbagai  kekuatan  keamanan. Diperlukan  pula  staf administrasi  yang memimpin  dan  mengelola  unit-unit  ini.  Kadang-kadang  ketertiban  pun  tidak  dapat dijaga tanpa timbul masalah, meski telah diupayakan sekuat tenaga. Namun, koloni semut tidak memerlukan polisi, satpam, atau hansip. Dan mengingat tugas  sang  ratu  yang  kita  anggap  sebagai  pemimpin  koloni hanya  melestarikan spesies, semut-semut ini sebenarnya tidak punya pemimpin atau penguasa. Jadi, di antara mereka  tidak  ada  hierarki  berdasarkan  rantai  komando.  Lalu  siapa  yang  menentukan ketertiban ini dan menjaga keberlanjutan-nya?

Sistem Kasta

      Setiap  koloni  semut,  tanpa  kecuali,  tunduk  pada  sistem  kasta  secara  ketat.  Sistem kasta ini terdiri atas tiga bagian besar dalam koloni. Anggota  kasta  pertama  adalah  ratu  dan  semut-semut  jantan, yang  memungkinkan koloni  berkembang  biak.  Dalam  satu  koloni  bisa  terdapat  lebih  dari  satu  ratu. Ratu mengemban  tugas  reproduksi  untuk  mening-katkan  jumlah  individu  yang  membentuk koloni. Tubuhnya  lebih  besar  daripada  tubuh  semut  lain.  Sedang  tugas  semut  jantan hanyalah membuahi sang ratu. Malah, hampir semua semut jantan ini mati setelah kawin.
      Anggota kasta kedua adalah prajurit. Mereka mengemban tugas seperti membangun koloni, menemukan lingkungan baru untuk hidup, dan berburu.
    Kasta ketiga terdiri atas semut pekerja. Semua pekerja ini adalah semut betina yang steril. Mereka merawat semut induk dan bayi-bayinya; membersihkan dan memberi makan. Selain  semua  ini,  pekerjaan lain  dalam  koloni  juga  merupakan  tanggung  jawab  kasta pekerja.  Mereka  membangun  koridor  dan serambi  baru  untuk  sarang  mereka;  mereka mencari makanan dan terus-menerus membersihkan sarang.
      Di  antara  semut  pekerja  dan  prajurit  juga  ada  subkelompok.  Subkelompok  ini disebut budak, pencuri, pengasuh, pembangun, dan pengumpul. Setiap kelompok memiliki tugas  sendiri-sendiri. Sementara satu kelompok berfokus sepenuhnya melawan musuh atau berburu, kelompok lain membangun sarang, dan yang lain lagi memelihara sarang. 
       Setiap  individu  dalam  koloni  semut  melakukan  bagian  pekerjaannya  sepenuhnya. Tak  ada  yang  mencemaskan  posisi  atau  jenis  tugasnya.  Ia  hanya  melakukan  apa  yang diwajibkan. Yang penting adalah keberlanjutan koloninya. Kalau kita pikirkan bagaimana sistem ini berkembang, kita tidak dapat mengingkari fakta adanya penciptaan.
      Alasannya:  Jika  ada  tatanan  yang  sempurna,  secara  logis  kita berkesimpulan bahwa tatanan ini tentu dibentuk oleh otak yang  merencanakan. Misalnya, tatanan disiplin dalam militer; jelas bahwa para perwira yang mengendalikan tentara telah menetapkan  tatanan  ini.  Sungguh  absurd  kalau  kita  berasumsi semua  individu  dalam pasukan  berkumpul  dengan  sendirinya  dan  mengorganisasi  diri  sendiri,  lalu berkelompok menurut  pangkat  dan  mulai  bertindak  sesuai  pangkatnya.  Lebih  jauh  lagi,  perwira  yang telah menetapkan tatanan ini harus terus melakukan inspeksi agar tatanan ini dapat bertahan tanpa  masalah. Kalau  tidak,  pasukan  yang  diserahkan  kepada  prajurit  saja  akan  berubah menjadi kumpulan yang kacau, sedisiplin apa pun pada mulanya.
      Semut  juga  memiliki  disiplin  yang  sangat  mirip  dengan  disiplin  militer.  Namun, aspek yang penting adalah tidak ada perwira, atau administrator yang mengorganisasi, di mana pun juga. Berbagai sistem kasta dalam koloni semut menjalankan tugas mereka secara sempurna, meskipun tanpa kekuatan pusat yang terlihat mengawasi mereka.
      Lalu, penjelasan satu-satunya adalah bahwa kehendak pusat ini merupakan kehendak yang tak tampak. Ilham yang disebut dalam Al Quran dalam pernyataan  “Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah” (Surat An-Nahl: 68)  adalah kekuatan yang tak tampak ini.
      Kehendak  ini  telah  menyempurnakan  perencanaan  yang  begitu  dahsyat yang menakjubkan manusia saat mencoba menganalisisnya. Ketakjuban dan kekaguman seperti ini juga telah diungkapkan oleh  para peneliti dari waktu ke waktu dalam berbagai bentuk. Kaum  evolusionis,  yang  mengklaim bahwa  sistem yang  sempurna  ini  telah  berkembang akibat  kebetulan,  tidak  mampu  menjelaskan perilaku pengorbanan  yang  merupakan  pusat sistem  ini.  Sebuah  artikel  mengenai  topik  ini  dalam Jurnal  Bilim ve  Teknik  sekali  lagi menunjukkan ketidak mampuan tersebut: Masalahnya,  mengapa makhluk  hidup suka  tolong-menolong?  Menurut  Teori Darwin,  setiap  makhluk  hidup  berjuang  untuk kelangsungan hidup  dan perkembangbiakannya  sendiri.  Karena  membantu  makhluk  lain  akan  secara relatif mengurangi  peluang  kelangsungan  hidupnya  tersebut,  perilaku  ini  mestinya  dilenyapkan oleh evolusi pada jangka panjang. Namun, telah terbukti bahwa makhluk hidup rela untuk berkorban.
     Cara  klasik  untuk  menjelaskan  fakta  pengorbanan  ini  adalah  bahwa  koloni  yang terbentuk  dari individu-individu  yang  mau  berkorban  demi  kepentingan  kelompok  atau genus  akan  lebih  sukses dalam  evolusi  daripada  koloni  yang  terbentuk  dari  individuindividu yang egois. Namun, teori ini tidak menjelaskan bagaimana masyarakat yang mau berkorban  ini  dapat  mempertahankan  ciri  tersebut.  Suatu individu  egois  yang  mungkin muncul  dalam  masyarakat  itu  mestinya  akan  meneruskan  ciri  egoisnya kepada  generasi berikut, karena dia tak akan mengorbankan dirinya. Hal samar lainnya adalah bahwa jika evolusi  terjadi  pada  tingkat  masyarakat,  sebesar  apa  semestinya  masyarakat  itu?  Apakah masyarakat itu berupa keluarga, kelompok, genus, atau kelas? Bahkan jika evolusi terjadi bersamaan pada lebih dari satu tingkat, apa yang akan terjadi jika kepentingan antartingkat ini bertentangan? 3Seperti yang kita lihat, mustahil menjelaskan rasa pengorbanan pada makhluk hidup dan sistem sosial yang berdasarkan padanya dengan teori evolusi, yakni dengan berasumsi bahwa makhluk hidup telah muncul akibat kebetulan.

Organisasi diri pada semut

      Dalam dunia semut tidak ada pemimpin, perencanaan, atau pem-rograman. Dan yang terpenting  adalah bahwa  tidak  ada  rantai  komando,  seperti  sudah  disebutkan  terdahulu. Tugas-tugas  terumit  dalam masya-rakat  ini  terlaksana  tanpa  tertunda  karena  adanya organisasi diri yang sangat canggih. Misalkan contoh berikut ini:
       Bila  koloni  mengalami  paceklik,  semut  pekerja  segera  berubah  men-jadi  semut pemberi makan dan mulai memberi makan sesamanya de-ngan partikel makanan dalam perut  cadangannya.  Bila  koloni kelebihan  makanan,  mereka  melepaskan  identitas  ini  dan kembali menjadi semut pekerja.
      Pengorbanan  yang  ditunjukkan  ini  benar-benar  pengorbanan  ting-kat  tinggi. Sementara manusia belum berhasil memerangi kelaparan di dunia, semut telah menemukan penyelesaian  praktis  untuk  masalah ini:  berbagi  segalanya,  termasuk  makanan.  Ya,  inilah contoh pengorbanan nyata. Memberi segala miliknya termasuk makanan, tanpa ragu, agar semut lain tetap hidup, hanyalah salah satu contoh pengorbanan di alam yang tak mampu dijelaskan teori evolusi.
      Bagi semut tidak ada masalah kepadatan penduduk. Sementara kota-kota besar milik manusia  saat  ini menjadi  sulit  ditinggali  akibat  migrasi,  ketiadaan  infrastruktur,  salah alokasi sumber daya dan pe-ngangguran, semut dapat mengelola kota bawah tanah mereka, yang berpopulasi 50 juta ekor, dengan keteraturan luar biasa tanpa merasa kurang sesuatu apa.  Setiap  semut  mampu  cepat  beradaptasi  dengan perubahan  yang  terjadi  dalam lingkungannya.  Agar  hal  seperti  ini  bisa  terjadi,  semut  tentu  telah diprogram  seca ra  fisik dan psikologis.
      Agar sistem yang sangat terorganisasi ini muncul, mesti ada ke-hendak utama yang mengilhami mereka mengerjakan tugas dan memerintah mereka . Kalau tidak, pasti terjadi kekacauan  besar,  bukan ketertiban. Dan  kehendak  utama  ini  adalah  milik  Allah,  yang memiliki  segala  sesuatu,  yang  Mahakuasa,  yang mengarahkan  semua  makhluk  hidup  dan memerintah mereka melalui ilham. Kenyataan  bahwa  semut terus-menerus  berjuang  tanpa  memikirkan  keuntungan, adalah  bukti  bahwa  mereka  bertindak  atas ilham  sesosok perwira.  Ayat  di  bawah sepenuhnya  menegaskan  bahwa  Allah  adalah  penguasa  dan pengawas  segala  sesuatu  dan bahwa setiap makhluk hidup bertindak atas ilham-Nya:

“Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah Tuhanku dan Tuhan-mu. Tidak ada  suatu  binatang  melata pun  melainkan  Dia-lah  yang  memegang  ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus.” (QS. Hud, 11: 56.